Maknaperkataan Paulus tentang hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan berdasarkan Filipi 1:12-26 menunjukkan bahwa penderitaan orang percaya melalui pemberitaan Injil mampu menginspirasi Judul Darah Muda Penulis Dwi Cipta Tahun Terbit 2018 Iklan Penerbit Literasi Press Tebal x + 386 ISBN 978-602-72918-3-6 Ini adalah buku pertama yang saya baca di tahun 2018. Penulisnya menyebutnya sebagai sebuah novel. Bagi saya buku ini lebih seperti jurnal harian yang diedit daripada sebuah novel. Namun kisah yang dituturkan dalam buku ini sungguh sangat menarik. Saya salut kepada Dwi Cipta, sang perangkai buku ini karena keberaniannya mengisahkan secara kronologis persinggungannya dengan dunia tulis-menulis dan persekolahan. Ia mengisahkan pengalamannya sejak sebelum mengenal TK sampai dengan copot dari kesempatannya mendapat selembar ijazah sarjana. Kenapa saya anggap Dwi Cipta amat berani – dan menurut saya lebih tepat disebut nekat? Sebab tak banyak orang yang mau menceritakan pengalaman dengan topik tunggal dalam 386 halaman! Tokoh “Aku” digambarkan sebagai orang yang kemaruk terhadap buku. Pertemuannya dengan buku di Balai Desa tanpa sengaja saat masih usia dini membuatnya jatuh cinta. Buku adalah pelarian dari posisinya dalam dunia yang tidak bahagia. Lahir dari ayah dan ibu yang dibenci oleh keluarga besarnya, membuat ia pun juga menjadi sasaran rundung. Sejak kecil ia sudah dipanggil dengan panggilan KIRIK – anjing! Kehidupan masa anak-anaknya yang penuh perundungan itu membuatnya mencari tempat pelarian. Buku adalah tempat pelarian yang nyaman baginya. Buku adalah pintu untuk menuju dunia lain yang membahagiakannya. Dikaruniai otak yeng encer, tokoh Aku menjalani kehidupan persekolahannya bukannya tanpa liku. Saat SMP, karena mabok dengan pendapat-pendapat dari buku yang dibacanya, membuat dirinya tidak disukai oleh guru. Namun demikian, di kelas tiga, ia memilih untuk menjadi seorang “penurut” sehingga bisa lulus dengan baik. Sayang ia tidak mendapatkan tempat di SMA yang diidamkannya. Kediktatoran ayahnya membuat ia kehilangan kesempatan untuk masuk ke SMA yang diincarnya. Sejak itulah ia sangat membenci ayahnya yang dianggapnya sok tahu, padahal tidak tahu. Pergumulan tentang tujuan hidup dan pilihan profesi mulai menggelora saat tokoh Aku masuk ke perguruan tinggi. Pilihannya untuk menjadi penulis membuatnya putus dari kuliahnya. Ia pun tak kunjung berhasil menjadi seorang penulis seperti yang dibayangkannya. Puncaknya adalah saat harus kembali ke kampungnya untuk menengok sang ibu yang sakit keras. Pilihan akan jalan hidupnya itu dianggap sebagai aib dan ketidak-berhasilan dalam hidup oleh keluarganya. Dwi Cipta mengajukan sebuah pemikiran bahwa sekolah, membaca buku dan gelar-gelar dari kampus-kampus tidak selalu menghasilkan orang-orang yang selama ini diidamkan oleh kebudayaan kita. Ia menunjukkan bahwa kata-kata, buku dan persekolahan bisa membawa seseorang menjadi kritis dan mempertanyakan tujuan hidup, bahkan mempertanyakan eksistensinya sebagai manusia. Gagasan ini tidaklah baru. Setidaknya bagi budaya Eropa yang sudah lama menggeluti persoalan eksistensi diri. Namun bagi budaya Indonesia tentu saja berpikir semacam ini masih sangat jarang dan tabu? Sekolah itu dianggap sebagai sarana untuk mencari ilmu demi bekal masa depan ekonomi yang lebih baik. Kisah si Aku dalam buku ini menyimpang dari pakem yang sudah diyakini oleh budaya kita. Dwi Cipta menunjukkan bagaimana sengsaranya menjadi orang yang menyimpang dari pakem. Seorang yang tak tahu balas budi kepada orang tua yang sudah berkorban berinvestasi bagi masa depan sang anak. Dwi Cipta menampilkan tokoh Aku dengan cara pikir Barat. Bacaan-bacaannya pun bacaan-bacaan Barat. Ia membangun tokoh aku yang kritis terhadap situasinya. Ia fasih membahas legenda Yunani. Ia paham filsafat-filsafat dan cara berpikir Barat. Itulah sebabnya tokoh Aku menentang situasinya dengan cara pikir Barat. Ia tidak menengok sedikit pun cara berpikir Timur, apalagi berpikir cara Nusantara. Apakah memang budaya baca-tulis-buku-sekolah adalah monopoli Barat? Satu lagi yang ingin saya bahas tentang buku ini. Yaitu tentang format yang katanya adalah Novel. Memang di awal sepertinya saya akan disuguhi oleh sebuah kisah yang sangatlah menarik. Dwi Cipta memulai dengan latar belakang sejarah perkebunan tebu di desanya. Ia menggambarkan konflik yang tajam antara para pemodal pabrik gula yang berselingkuh dengan para pejabat daerah melawan penduduk. Ia juga menukil kisah kelam tahun 1965. Kalimat pembuka buku ini pun sangat provokatif “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober.” Apalagi Dwi Cipta juga membumbui awal bukunya dengan legenda Dewi Lanjar dan Kapal Kaladita. Maka saat saya membaca bagian awal buku ini, saya sudah merasa akan disuguhi kisah yang dijalin seputar sengketa ideologis antara kapitalisme dengan sosialisme atau Jawanisme. Ternyata di bab-bab selanjutnya intensitas konflik yang sangat tajam dibangun di awal buku lenyap ditelan kata-kata. Selanjutnya saya disuguhi oleh pergumulan tunggal tokoh sang Aku. Saat selesai membaca buku ini, saya teringat dengan buku karya Jean Paul Sartre yang berjudul “Les Mots” yang diterjemahkan oleh Jean Couteau menjadi “Kata-Kata.” Dalam bukunya ini Sartre juga berkisah tentang pergumulannya dengan “kata-kata.” Sartre menuangkan riwayat hidupnya menjadi sebuah buku yang menggambarkan perjuangannya untuk menjadi seorang penulis. Saya senang ada karya orang Indonesia yang berani mengungkap perenungan dan perjuangan eksistensialnya sebagai manusia intelektual, seperti halnya Sartre menuliskannya di Perancis sana. Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini. PengaruhIbu Pada Anak. Alasan kenapa orang-orang yang terkenal seperti John Wesley, Hudson Taylor bisa menjadi berkat bagi banyak orang adalah karena tak lepas dari peran ibu di dalam kehidupan mereka. Ibu punya peran yang cukup besar didalam pembentukan seorang anak, jika ibu berfungsi dengan baik maka akan menghasilkan pertumbuhan anak yang
Commentaire composĂ© complet, rĂ©digĂ© par le professeur. DerniĂšre mise Ă  jour 02/11/2021 ‱ ProposĂ© par SYL Ă©lĂšve Texte Ă©tudiĂ© AUX LECTEURS Amis lecteurs qui ce livre lisez, DĂ©faites-vous de toute affection, Et le lisant ne vous scandalisez. Il ne contient ni mal ni infection. Il est vrai qu’il a peu de perfection À vous apprendre, sinon en fait de rire Mon cƓur ne peut autre sujet choisir, Voyant le deuil qui vous mine et consume ; Mieux vaut de rire que de larmes Ă©crire, Parce que rire est le propre de l’homme. PROLOGUE Buveurs trĂšs illustres, et vous vĂ©rolĂ©s trĂšs prĂ©cieux car c'est Ă  vous, et Ă  nul autre, que sont dĂ©diĂ©s mes Ă©crits, Alcibiade, au dialogue de Platon intitulĂ© Le Banquet, louant son prĂ©cepteur Socrate, qui est sans discussion le prince des Philosophes, dit, entre autres paroles, qu'il est semblable aux silĂšnes. Les SilĂšnes Ă©taient jadis de petites boĂźtes comme nous voyons Ă  prĂ©sent dans les boutiques des apothicaires, peintes au-dessus de figures comiques et frivoles, comme des harpies, des satyres, des oisons bridĂ©s, des liĂšvres cornus, des canes bĂątĂ©es, des boucs volants, des cerfs attelĂ©s et telles autres figures reprĂ©sentĂ©es Ă  plaisir pour exciter le monde Ă  rire. Tel fut SilĂšne, maĂźtre du bon Bacchus. Mais au-dedans on rangeait les drogues fines, comme le baume, l'ambre gris, la cardamome, le musc, la civette, les pierreries en poudre, et autres choses prĂ©cieuses. Il disait que Socrate Ă©tait pareil parce qu’en le voyant du dehors et en l’estimant par son apparence extĂ©rieure, vous n'en auriez pas donnĂ© une pelure l'oignon, tellement il Ă©tait laid de corps et de maintien risible, le nez pointu, le regard d'un taureau, le visage d'un fou, simple dans ses moeurs, rustique dans ses vĂȘtements, pauvre de fortune, infortunĂ© en femmes, inapte Ă  tous les offices de l'Ă©tat, toujours riant, toujours buvant Ă  la santĂ© d’un chacun, toujours plaisantant, toujours dissimulant son divin savoir. Mais en ouvrant cette boĂźte, vous auriez trouvĂ© au-dedans une drogue cĂ©leste et inapprĂ©ciable, un entendement plus qu'humain, une force d'Ăąme merveilleuse, un courage invincible, une sobriĂ©tĂ© sans pareille, un contentement assurĂ©, une assurance parfaite, un mĂ©pris incroyable de tout ce pour quoi les humains veillent, courent, travaillent, naviguent et bataillent tellement. À quel propos, Ă  votre avis, tend ce prĂ©lude et coup d'essai ? Parce que vous, mes bons disciples, et quelques autres fous qui n’ont rien Ă  faire, en lisant les joyeux titres de certains livres de notre invention, comme Gargantua, Pantagruel, Fessepinte, La dignitĂ© des braguettes, des pois au lard avec un commentaire, etc., vous jugez trop facilement qu’ils ne traitent Ă  l’intĂ©rieur que de moqueries, folĂątreries et joyeux mensonges, puisque l'enseigne extĂ©rieure, si on ne cherche pas plus loin, est communĂ©ment reçue Ă  dĂ©rision et rigolade. Mais il ne faut pas juger si lĂ©gĂšrement les Ɠuvres des humains. Car vous-mĂȘmes vous dites que l'habit ne fait pas le moine, et tel est vĂȘtu d’habits monacaux qui au-dedans n'est rien moins que moine ; et tel est vĂȘtu d'une cape Ă  l’espagnole, qui dans son cƓur n’appartient nullement Ă  l'Espagne. C'est pourquoi il faut ouvrir le livre et soigneusement peser ce qui y est racontĂ©. Alors vous connaĂźtrez que la drogue qu’il contient est de bien autre valeur que ne le promettait la boĂźte. C'est-Ă -dire que les matiĂšres traitĂ©es ici ne sont pas si folĂątres que le titre dessus le prĂ©tendait. Rabelais, Gargantua - Prologue Traduction Mme Fragonard Écrit en 1534 par François Rabelais sous le pseudonyme de Alcofribas Nasier, le prologue de Gargantua est destinĂ©, comme tout prologue, Ă  inciter Ă  la lecture. C’est une invitation au lecteur Ă  dĂ©couvrir un univers imaginaire, mais aussi une pensĂ©e et un style. Cependant ce prologue va plus loin il donne des clĂ©s de lecture de l’Ɠuvre et pose dĂ©jĂ  les bases de la philosophie humaniste prĂŽnĂ©e par l’auteur. Nous verrons comment ce texte, sous une apparence comique, dissimule en rĂ©alitĂ© une rĂ©flexion profonde et pertinente sur le genre humain. I. Une apparence comique a Le registre burlesque Le prologue est prĂ©cĂ©dĂ© d’un dizain strophe ou un poĂšme de dix vers liminaire sous forme d’apostrophe au lecteur. Rabelais place ainsi son Ɠuvre sous le signe du rire parce que rire est le propre de l’homme. ». Le champ lexical du rire, et les nombreuses connotations qui l’accompagnent, soulignent le programme de Gargantua de quoi rire ; le rire ; Ă  rire ; ridicule ; toujours riant ; se rĂ©jouissant ; farces ; dĂ©rision ; moqueries ; folĂątreries ; rigolade
 » Rabelais a recours au registre burlesque c'est-Ă -dire Ă  l'emploi de termes comiques ou vulgaires pour traiter d’un sujet ou de personnages nobles. On a ici une dĂ©calage entre le titre Ă©logieux La vie inestimable du grand Gargantua » qui nous place dans un registre Ă©pique hĂ©ritĂ© des romans de chevalerie, ou mĂȘme hagiographique, qui relate la vie des saints et le style bas qui transparaĂźt dĂšs la premiĂšre ligne et l’apostrophe au lecteur, traitĂ© par les oxymores de buveurs illustres » et de vĂ©rolĂ©s trĂšs prĂ©cieux. » Le burlesque vise Ă  rabaisser ce qui est noble ou respectable, ici le portrait de Socrate. Le grand philosophe est dĂ©peint via un portrait pĂ©joratif qui ridiculise son apparence physique laid de corps, de maintien risible, le regard d’un taureau, le visage d’un fou
 » Les rĂ©fĂ©rences qui lui sont associĂ©es sont marquĂ©es par la nĂ©gation inapte, infortunĂ© », discordante avec le personnage de Socrate, reconnu de tous comme un modĂšle de sagesse, et le pĂšre mĂȘme de la philosophie. De plus, le prologue cherche en principe Ă  susciter la bienveillance du lecteur pour lui donner envie de poursuivre ici, le lecteur est presque insultĂ© ! Mais la tournure oxymorique nous permet de comprendre qu’il s’agit d’une plaisanterie, et que Rabelais s’adresse Ă  nous comme Ă  de bons et fidĂšles camarades. b Un style dionysiaque Par apposition Ă  l’esthĂ©tique appolinienne, qui cĂ©lĂšbre Apollon le dieu des arts et de la beautĂ©, symbole d’ordre et de culture, le dionysiaque est une esthĂ©tique de la dĂ©mesure, de l’ivresse, de l’instabilitĂ© et de l’enthousiasme. Apollon incarne l’ordre, Dionysos, le dieu de la vigne, incarne la gaietĂ© et le chaos. L’apostrophe buveurs trĂšs illustres » place d’emblĂ©e le lecteur dans cet univers. Il faut lire Gargantua comme on boirait du vin, pour en tirer une ivresse joyeuse. Rabelais Ă©voque aussi SilĂšne, le satyre pĂšre adoptif de Dionysos. L’ivresse transparaĂźt partout dans l’écriture de Rabelais, Ă  travers les nombreuses Ă©numĂ©rations dĂ©lirantes comme les harpies, les satyres, les oisons bridĂ©s, les liĂšvres cornus, les boucs volants etc. » On dirait un propos d’ivrogne en proie Ă  des hallucinations, comme si l’auteur, incapable de s’arrĂȘter de parler, Ă©tait emportĂ© par une ivresse littĂ©raire. L’énumĂ©ration des Ɠuvres participe Ă  cette sensation Gargantua et Pantagruel sont citĂ©es mais les titres suivants sont fantaisistes et inventĂ©s par l’auteur, Ă  portĂ©e presque scatologique Fessepinte, la DignitĂ© des braguettes
 » et donc de ce qu’elles contiennent.. C’est la promesse d’une Ɠuvre marquĂ©e par la joie et la spontanĂ©itĂ©. Mais derriĂšre cette Ă©criture fantaisiste et dionysiaque se cache une Ɠuvre Ă  visĂ©e philosophique le prologue sert Ă  nous avertir de ce double niveau de lecture. II. Un prologue philosophique a Le rire, une porte d'entrĂ©e vers la pensĂ©e de l’auteur Le rire de Rabelais est un choix rĂ©flĂ©chi, une posture volontaire, comme le montre la formule comparative mieux vaut de rire que de larmes Ă©crire ». Il vaut mieux Ă©crire de quoi rire que de quoi pleurer, car le rire est le propre de l’homme. Rabelais insiste sur le rire qui est un privilĂšge unique de la condition humaine les animaux ne rient pas. Dans le mĂȘme temps, il Ă©voque un deuil qui mine et consume » le registre tragique est amenĂ© en opposition au ton burlesque et joyeux de cette apostrophe. L’auteur rappelle que son Ɠuvre a deux niveaux de lecture en surface, le comique et le burlesque qui amuse et divertit ; en profondeur le tragique et le sĂ©rieux, inhĂ©rent Ă  la condition humaine, par essence mortelle et fragile. Le champ lexical de la philosophie contrebalance la tonalitĂ© comique du texte Socrate, prince des philosophes, comprĂ©hension, vertu, contentement, examen approfondi, interprĂ©ter, nature, sage
 » Ce vocabulaire abstrait s’oppose Ă  l’univers fantaisiste et scatologique et souligne l’ambition philosophique de l’Ɠuvre. Le texte est d’ailleurs structurĂ© Ă  la maniĂšre d’un texte argumentatif 1er paragraphe descriptif Ă  visĂ©e argumentative avec la mĂ©taphore filĂ©e de la boite, qui insiste sur l’importance du contenu sur le contenant, tout comme pour Socrate en intĂ©rieur intelligence, force, merveille
 », et donc comme pour l’Ɠuvre. Le deuxiĂšme paragraphe est argumentatif et construit avec la prĂ©sence de connecteurs logiques mais, car, c’est pourquoi, alors, dans l’hypothĂšse oĂč
 » Rabelais est donc moins ivre qu’il n’y parait. Il veut valoriser la raison et la logique le rire est une porte d’entrĂ©e dans l’Ɠuvre qui sĂ©duit le lecteur dans l’immĂ©diat, pour ensuite lui faire dĂ©couvrir une rĂ©flexion humaniste. Il s’amuse mĂȘme en accusant le lecteur d’avoir trop bu ! b Une mĂ©decine de l’ñme Rabelais est un mĂ©decin diplĂŽmĂ© et pratiquant. Il a lu Hippocrate et Galien, qu’il cite d’ailleurs ensuite dans ce mĂȘme prologue. Cette formation transparaĂźt tout au long du prologue. Le champ lexical de la mĂ©decine est omniprĂ©sent ni mal ni infection ; remĂšdes ; baumes ; drogue
 » La lecture de Gargantua nous est prescrite Ă  la maniĂšre d’un mĂ©dicament. Il est destinĂ© Ă  guĂ©rir les Ăąmes en les ouvrant Ă  la sagesse et Ă  la vĂ©ritĂ©. C’est un manifeste humaniste. III. Un prologue humaniste a La grandeur de l’homme Sous la satire, Rabelais met en avant la noblesse de notre dimension spirituelle. À travers une Ă©numĂ©ration des activitĂ©s qu’il juge dĂ©gradantes pris de convoitise, travaillent courent, naviguent, bataillent
 » il fait une allusion trĂšs claire aux prĂ©occupation sociales de son temps, guerre de religion, commerce maritime etc.. Il caricature les hommes entraĂźnĂ©s dans le tourbillon d’une vie sans prendre le temps de penser ou de rĂ©flĂ©chir. Cette pensĂ©e est rĂ©solument moderne pour son Ă©poque, car elle peut s’appliquer encore parfaitement aujourd’hui ! Il appelle l’homme Ă  se dĂ©pouiller de l’action frĂ©nĂ©tique pour accĂ©der Ă  la contemplation et Ă  la rĂ©flexion. Il met en valeur les bienfaits de la connaissance Ă  l’aide du registre Ă©pique comprĂ©hension plus qu’humaine, vertus merveilleuses, courage invincible, assurance parfaite
 ». Il met en Ă©vidence la grandeur de l’homme, sa capacitĂ© Ă  utiliser son esprit pour comprendre le monde. b Une nouvelle conception de la littĂ©rature Rabelais souhaite dĂ©peindre l’homme tel qu'il est. Il mentionne les croyances populaires l’habit ne fait pas le moine » et utilise le langage quotidien et non savant pour parler de l’homme tel qu’il est, sans chercher Ă  l’idĂ©aliser. Il abolit la frontiĂšre entre Ă©crit et oral, et entame un dialogue avec le lecteur, comme le prouve la 2eme personne du pluriel c’est Ă  vous que je dĂ©die
 ; pour que vous mes bons disciples ; avez-vous trop bu ? ». Il joue le rĂŽle d’un Socrate qui, par le dialogue, cherchait Ă  dĂ©faire les prĂ©jugĂ©s de son interlocuteur. Socrate utilisait sa propre mĂ©thode, appelĂ©e la maĂŻeutique, ou l’accouchement des Ăąmes. Rabelais, Ă  travers le philosophe grec, fait revivre le patrimoine grĂ©co-latin que les humanistes redĂ©couvrent et veillent Ă  appliquer dans leur vie quotidienne. c Par-delĂ  le chaos Comique, argumentatif, philosophique
 ce prologue est aussi Ă©tonnamment poĂ©tique. De nombreuses rimes internes dans les descriptions tĂ©moignent d’une volontĂ© esthĂ©tique. Les assonances ajoutent de la musicalitĂ©. Le texte, qui s’ouvrait sur une cĂ©lĂ©bration du chaos dionysiaque, se rĂ©vĂšle paradoxalement soucieux de son harmonie. Rabelais cherche Ă  rapprocher les contraires le rire et le tragique, le laid et le beau, l’ordre et le chaos
 Il veut montrer l’unitĂ© du monde plutĂŽt que sa division. La subtilitĂ© de cette dimension poĂ©tique souligne que le monde reste unifiĂ© sous son apparence dĂ©sordonnĂ©e et anarchique. Sans doute est-ce le cƓur mĂȘme du projet humaniste. Conclusion Ce prologue de Gargantua permet au lecteur de comprendre le contenu de l’ouvrage Ă  venir une Ɠuvre littĂ©raire contenant des genres et des registres multiples, de la farce jusqu’à la poĂ©sie. Ce texte rĂ©sume Ă  lui seul le projet humaniste de Rabelais Ă©tudier le foisonnement et la complexitĂ© du monde mais surtout en louer son unitĂ©.
Title Memori pergumulan hidup : manakala wong cilik memotret para pembesar / penulis, Toto Widyarsono, Author: Toto Widyarsono*(penulis), Publisher:Yogyakarta : Diandra Kreatif, 2017., Subject:Toto Widyarsono , Isbn: -9, Type: Monograf Memori pergumulan hidup : manakala wong cilik memotret para pembesar / penulis, Toto
Tetapiketika mantan pecandu yang membantu pemulihannya, si pecandu narkoba akan mengikuti kata-katanya. Masa lalu kita, baik atau buruk, mempersiapkan kita di masa yang akan datang. Apa yang kita alami di masa lalu kita akan memperkuat diri kita dalam beberapa hal. Mungkin karakter kita, mental kita atau kecerdasan kita.

FilsafatMoral Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Pasti Ori ∙ Garansi 7 Hari ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli Filsafat Moral Pergumulan Etis Keseharian Hidup Manusia di Berdikari Book Official Store.

ï»żApayang kita lakukan dan itu baik, akan ditiruh orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dan inilah buktinya, bahwa kebaikan akan membuahkan hasil yang baik pula. Perlu kita ingat bahwa dalam hidup kita ada Pribadi yang mengasihi kita, mencintai kita Didalam perjalanan hidupnya selama 37 tahun bersama Tuhan (baca: Yesus) sudah semestinya GKPA mengenal, mengetahui serta mengakui siapa Yesus dan apa yang telah Ia perbuat bagi GKPA. Tidaklah terlalu berlebihan jika saya mengatakan sudah bukan porsinya lagi GKPA menemukan wajah Yesus dalam tatanan Dogmatika.
BacaJuga: Apakah Urutan Kelahiran Anak Mempengaruhi Karakternya?Penting Untuk Hindari Stereotip. Pergumulan dan tantangan anak remaja untuk mengambil pilihan identitas diri mempunyai beberapa fase, yang disebut dengan phases of identity development (fase perkembangan identitas).. Menurut James Marcia, seorang psikolog klinis dan
Dalampimpinan-Nya kita pun akan kuat menghadapi konteks pergumulan masing-masing. Mari menampilkan buah pertobatan dan kehidupan yang baru di dalam Kristus. Tetap rendahkan diri dihadapan-Nya dan bergantung hanya kepada-Nya. Tuhan pencipta semesta, yaitu Bapa kita, akan senantiasa memelihara hidup kita. Amin. Penulis: Fajar Gumelar.
.
  • zkx5ksyncn.pages.dev/120
  • zkx5ksyncn.pages.dev/956
  • zkx5ksyncn.pages.dev/19
  • zkx5ksyncn.pages.dev/490
  • zkx5ksyncn.pages.dev/921
  • zkx5ksyncn.pages.dev/926
  • zkx5ksyncn.pages.dev/523
  • zkx5ksyncn.pages.dev/942
  • zkx5ksyncn.pages.dev/234
  • zkx5ksyncn.pages.dev/972
  • zkx5ksyncn.pages.dev/694
  • zkx5ksyncn.pages.dev/843
  • zkx5ksyncn.pages.dev/3
  • zkx5ksyncn.pages.dev/537
  • zkx5ksyncn.pages.dev/997
  • apakah pergumulan hidup si penulis